6 November 2011
2 Juni 2009
The political resurrection of the King of Ternate

Indonesian politics is still unpredictable and that it makes it also quite interesting. One of the big surprises of the last time is the sudden political resurrection of the Sultan of Ternate in the N-Moluccans. This king with complete name:Sultan Drs. Mudafar II Syah Masjur Kamo Lano (usually known as Sultan Mudafar II Syah) won in the last april election for the national parliament a seat as a senator. A part of this parliament is made up of representatives special of their area and the people of a part of the area of the so-called Kesultanan Ternate, where the sultan stood candidate, choose him as their wished candidate to represent their needs and further things of their lives in the national parliament. Since 1999 the Sultan of Ternate experienced some political problems. Then the N-Moluccan province was being shaped and some blame him for being to ambitious in that process. After the reinstallment of the structure Moloku Kie Raha (N-Moluccans to be seen as the area of the 4 kingdoms) the situation went slowly but surely more better in the Moluccans. In 2001 Sultan Abdullah Syah was installed as new sultan of a resurrected (nominal) kesultanan (in fact heir of the dynasty) of Jailolo, so the complete structure of 4 royal families of 4 areas was complete again according to tradition. The Sultana of Ternate;Boki Dra. Nita Budhi Susanti Syah;was chosen in 2004 as the Ternate representative in the Indonesian national parliament. And she seemed to become that again in 2009. But suddenly Sultan Mudafar II Syah was favoured as a candidate and chosen;although he said to some people before, that he was already thinking of slowly but surely to witdraw for very active politics. But probably he tought, that when his people called upon him to help them, he only could follow the wishes of his people to try to serve them. His former political so-called rival;Sultan Haji Djafar Junus Syah of Tidore (Tidore was historicaly from time to time a bit the rival of equal powerful Ternate) was chosen in 2004 already as the representative of the part of the so-called kesultanan area of Tidore, where he could stand as a candidate and in 2009 again. Only the Sultan of Jailolo, Sultan Abdullah Syah (complete name: Sultan Haji Abdullah Abdurachman Haryanto Syah) seemed to need more time to be rooted politically in his so-called kesultanan area. This is a very symphatic former army-officer known king just appeared the last 2 years in the political arena. He was not chosen, but at least his people knew then, what were his ideas and how he acted as a real politician. It is to be wished, that this warm personality also will be able to serve his people on a more higher level. So he will be seen in the future more;socializing among his people. We are greatfull to Mister Bayu Maulana from the USA;official private assistant of HRH the Sultan Mudafar II Syah of Ternate and the site okezone.com to provide us with some interesting facts about these N-Moluccans elections for national parliaments, in which 3 of the 4 kings were candidates.
Maulana's** Articles :
Although the age has changed but the power of local kings in some areas like in North Maluku Province still undefeatable. Two Sultans who followed the race in General Election 2009 to obtain the Senator seats mentioned get the absolute winner.
Sultan of Ternate, Mudaffarsjah shows his power by winning in the half of Ternate and West Halmahera region, and in other sides Sultan Tidore, Djafarsjah as the incumbent participant won above 26 his rivals within Tidore Islands, Middle Halmahera and East Halmahera.
In Ternate, Mudaffarsjah won more than 40% or approximately 32.568 voters from 80378 legal voters. Sultan Tidore was able to reach 7.494 or more than 9,32 % within his three authority
within Tidore Islands, Middle Halmahera and East Halmahera.
In Ternate, Mudaffarsjah won more than 40% or approximately 32.568 voters from 80378 legal voters. Sultan Tidore was able to reach 7.494 or more than 9,32 % within his three authority regions. He won 12.095 equal than 25% from 48.098 legal voters. One step behind of Djafar, the oldest son of previous Sultan Tidore “Taufik Rachman” with 7988 voters equal to 16.61%.
The data above as a result of recapitulation entry in General Election Committee whereas just two regencies and two cities as mentioned at prior that has completed accounting process. Meanwhile, 5 regencies others have not submitted the data.
Only one Sultan that totally failed, he is Sultan Jailolo Abdullah Sjah. From temporary data in General Election Committee his name listed beyond the big five. Provided that he loose in competition with Abdurahman Laahabato who gets 6658 temporary result.
*)DP Tick (Pusat Dokumentasi Kerajaan-kerajaan Indonesia "Pusaka")
**)Mr. Maulana (The Assistant of Sultan Ternate)
sumber by : kerajaan-indonesia.blogspot.com
28 Februari 2009
Demokrasi ala “Moloku Kie Raha”
Jauh sebelum Indonesia mengenal sistem demokrasi liberal ala Barat seperti saat ini, kerajaan-kerajaan Nusantara telah mengenal sistem demokrasi dan bernegara yang dibangun atas falsafah dan budayanya sendiri. Saling percaya, amanah, tanggung jawab moral, dan kesadaran atas posisi diri menjadi dasar membangun dan menjaga negara. Sebelum kecenderungan negara-negara modern menggabungkan diri dalam organisasi antarpemerintahan, empat kesultanan di wilayah Maluku Utara, yaitu Kesultanan Ternate, Tidore, Bacan, dan Jailolo, telah menggabungkan diri dalam konfederasi Moloku Kie Raha melalui perjanjian di Pulau Moti pada 1322.
Penyatuan itu dimaksudkan untuk menggalang kekuatan ekonomi mereka dalam menghadapi ancaman bangsa-bangsa asing. Sejak abad ke-7 bangsa Mesir dan China serta sejumlah kerajaan Nusantara telah berada di wilayah Maluku utara untuk berdagang rempah-rempah. Bangsa-bangsa Eropa pun akhirnya tiba di Maluku utara pada awal abad ke-16 untuk keperluan yang sama.
selengkapnya : KOMPAS
2 Desember 2008
TERNATE (KERAJAAN MALUKU TERBESAR)
Asal - usul
PADA 1250, terjadi eksodus besar-besaran orang-orang Halmahera dibawah Kerajaan Jailolo ke berbagai pulau di bagian barat pulau tersebut seperti Ternate, Tidore, Moti dan Makian. Eksodudus ini terjadi akibat konflik politik antara Raja Jailolo yang absolute-otoriter dengan kelompok-kelompok politik local. Diantara pelarian tersebut ada yang mendarat di Ternate dan mendirikan pemukiman mereka di dekat puncak Gunung Gamalama. Pemilihan tempat ini atas pertimbangan keamanan yakni untuk menghilangkan jejak dan kemungkinan pengejaran pasukan Jailolo. Komunitas tertua tersebut adalah di Tobona, terletak di antara puncak Gamalama yang saat itu belum meletus (Gunung Gamalama mulai meletus pada 1686)
Komunitas Tobona dikepalai seorang pimpinan yang disebut “Momole". Pembentukan komunitas inilah yang menandai permulaan masa kekuasaan Momole, sebagai awal masa Pra-kolano (raja). Momole pemukiman tobona bernama Guna. Karena pelarian politik orang-orang Halmahera makin bertambah, para imigran tersebut lalu membangun pemukiman baru bernama Foramadiahi sekitar tahun 1254. Pemukiman Foramadiahi dipimpin Mole Matiti. Setelah itu, terbentuk pemukiman ketiga yakni sampala, dibawah otoritas Momole Ciko (baca Siko). Berbeda dengan Tobona, kedua pemukiman terakhir di bangun tidak jauh dari pantai. Bahkan, Sampala terletak di tepi pantai. Hal ini meungin memperlihatkan bahwa komunitas-komunitas di Ternate tidak lagi memperhitungkan Kerajaan Jailolo sebagai ancaman. Jarak antara satu pemukiman dengan pemukiman lainnya di masa awal Ternate ini relative cukup jauh, sehingga komunikasi di antara kampong-kampung tersebut relative sulit dan kurang lancer, keadaan semacam ini berjalan selama beberapa tahun.
Pada 1257, komunitas Tobona, sebagai komunitas pelopor, mengambil prakarsa menyelenggarakan suatu musyawarah. Tidak jelas di mana musyawarah itu berlangsung. Kemungkinan di Tobona, karena komunitas inilah yang memprakarsainya. Pendapat lain menyatakan musyawarah tersebut berlangsung di Foramadiahi, yang terletak di tengah, antara Sampala dan Tobona. Kemungkinan lainnya, musyawarah dilakukan di Sampala, mengingat Momole Sampala-lah yang kemudian terpilih memimpin seluruh pemukiman yang ada. Musyawar diadakan dengan agenda tunggal: menggalang persatuan diantara ketiga komunitas tersebut dan mengangkat Ciko sebagai pemimpin ketiga komunitas.
Setelah pengangkatannya sebagai pimpinan komunitas tritunggal, Ciko mengubah gelarnya dari Momole menjadi Kolano – bermakna “raja”. Demikian pula, namanya di ubah pula menjadi Mashur Malamo. Peristiwa ini mengawali era kolano di Ternate. Setelah beberapa waktu menjadikan Sampala sebagai pusat kekuasaan, Ciko yang berkuasa hingga 1272 kemudian membangun ibu kota baru di tepi pantai, yang diberi nama Gamlamo (Negeri Besar).
Pengangkatan Ciko sebagai Kolano pertama di Ternate, dituturkan dalam mitos sbb :
Pada suatu hari Momole Guna, Kepala Persekutuan Tobona, menjelajahi hutan mencari pohon enau untuk menyadap tuaknya. Ia tiba disuatu lintasan jalan dan menemukan sebuah lesung terbuat dari emas. Momole Guna mengambilnya dan membawa pulang ke rumah. Lesung emas itu kemudian menjadi tontonan yang aneh bagi warga Tobona. Karena yang ingin melihatnya makin banyak berdatangan, Momole Guna tidak mau menahannya lebih lama lagi dan memutuskan untuk memberikannya kepada Momole Molematiti, pimpinan komunitas Foramadiahi, yang terletak dibawah Tobona. Mole matiti yang telah menerima lesung aneh itu, juga mengalami hal yang sama seperti dialami Momole Guna dan Tobona. Karena tidak betah, ia berikan kepada Ciko dan Sampala. Ciko menerima lesung itu berikut segala keajaibannya dan dengan demikian ia memperoleh kehormatan menjadi penguasa atas pulau Ternate yang berakhir dengan penobatannya sebagai Raja pertama pulau itu dengan gelar Kolano. (Andaya, Leonard Y.Op.Cit.p.50 dan Valentijn Oud en Nieuw,Vol.1b pp.282.283)
Setelah Mashur Malamo (1257-1272) dinobatkan sebagai Kolano pertama, berkuasa di kerajaan Ternate secara berturut-turut: Kaicil Yamin (1272-1284), Kaicil Siale (1284-1298), Kamalu (1298-1304), dan Kaicil Ngara Lamo (1304-1317).
13 Juli 2008
AsaL-UsuL KesuLtanan Ternate

Pulau Ternate merupakan sebuah pulau gunung api seluas 40 km persegi, terletak di Maluku Utara, Indonesia. Penduduknya berasal dari Halmahera yang datang ke Ternate dalam suatu migrasi. Pada awalnya, terdapat empat kampung di Ternate, masing-masing kampung dikepalai oleh seorang Kepala Marga, dalam bahasa Ternate disebut Momole. Lambat laun, empat kampung ini kemudian bergabung membentuk sebuah kerajaan yang mereka namakan Ternate. Selain Ternate, terdapat juga kerajaan lain di kawasan Maluku Utara, yaitu: Tidore, Jailolo, Bacan, Obi dan Loloda.
Dalam sejarahnya, Ternate merupakan daerah terkenal penghasil rempah-rempah, karena itu, banyak pedagang asing dari India, Arab, Cina dan Melayu yang datang untuk berdagang. Sebagai wakil masyarakat, yang berhubungan dengan para pedagang tersebut adalah para kepala marga (momole).
Bagaimana awal cerita pembentukan Kerajaan Ternate? Ceritanya, seiring semakin meningkatnya aktifitas perdagangan, dan adanya ancaman eksternal dari para lanun atau perompak laut, maka kemudian timbul keinginan untuk mempersatukan kampung-kampung yang ada di Ternate, agar posisi mereka lebih kuat. Atas prakarsa momole Guna, pemimpin Tobona, kemudian diadakan musyawarah untuk membentuk suatu organisasi yang lebih kuat dan mengangkat seorang pemimpin tunggal sebagai raja. Hasilnya, momole Ciko, pemimpin Sampalu, terpilih dan diangkat sebagai Kolano (raja) pertama pada tahun 1257 M dengan gelar Baab Mashur Malamo. Baab Manshur berkuasa hingga tahun 1272 M. Kerajaan Ternate memainkan peranan penting di kawasan ini, dari abad ke-13 hingga 17 M, terutama di sektor perdagangan. Dalam sejarah Indonesia, Kesultanan Ternate merupakan salah satu di antara kerajaan Islam tertua di nusantara, dikenal juga dengan nama Kerajaan Gapi. Tapi, nama Ternate jauh lebih populer dibanding Gapi.
Sumber : members.virtualtourist.com
12 Juli 2008
TERNATE "Refleksi Pemerintahan 1252 -1999"

Sejarah pemerintahan di Ternate diawali pada tahun 1257 pada masa terbentuknya kerajaan Moloku di bawah kekuasaan BAAB Mansur Malamo. Berdasarkan Zelf Bestuur Regeling 1938. Ternate merupakan bagian dari 4 (empat) Swapraja di Daerah Maluku Utara disaping Tidore, Jailolo dan Bacan.
Pada masa kesultanan Ternate, struktur Pemerintahan telah tergambar dengan jelas di mana dalam kesultanan dibagi atas beberapa Distrik .Setiap Distrik dikepalai oleh seorang Distrik Hoofd yang membawahi beberapa Ender Distrik Setiap Ender Distrik dikepalai oleh seorang Ender Distri Hoofd.
Dalam mekanisme penyelenggaraan pemerinta pada saat itu seorang Distrik Hoofd dan Ender Distrik Hoofd diangkat dan diberhentikan oleh Sultan. Rakyat mengenal sebutan-sebutan tersebut dengan “Sangadji” yang membawahi kampung-kampung dengan “Mahimo” sebagai kepalanya.
F. S. A. de CLERCQ dalam bukunya BIJDRAGEN TOT DE KENNIS DER RESIDENTIE TERNATE terdapat 3 fase pemerintahan dengan dimasa kerajaan Ternate yaitu :
- 1257 – 1486 , berdirinya Kerajaan – Kerajaan dengan beberapa Kepala Pemerintahan Kerajaan tertentu di Ternate dan Tidore
- 1486 – 1817 , masuknya Agama Islam dan tampilnya Sultan pertama sampai berakhirnya Pemerintah sementara Inggris
- 1817 – 1888 , peralihan kekuasaan Belanda
