Tampilkan postingan dengan label Lain-lain. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lain-lain. Tampilkan semua postingan

19 Februari 2013

Lomba Foto : TEMA -Jujaru dan Ngungare 2013-

Untuk memfasilitasi dan mewadahi bakat fotografer asal Kota ternate, penulis berinisiatif untuk mengakomodir hasil jepretan kalian dalam blog ini (Ternate Untuk Mereka).

Tema yang diangkat dalam kesempatan kali ini, yakni "JUJARU & NGUNGARE 2013". Penulis mengajak publik untuk berpartisipasi dalam kegiatan ini.

Ketentuan Umum dan Persyaratan :

  1. Kegiatan ini terbuka untuk umum, dan Warga Negara Indonesia (WNI).
  2. Dalam karya fotonya, peserta dibatasi objeknya (Foto Model) hanya pada nyong-nyong dan nona-nona (Cewek & Cowok, red) yang kisaran umurnya antara 16-28 tahun.
  3. Foto harus diambil di wilayah geografis Kota Ternate.
  4. Semua karya yang diikutkan dalam kegiatan ini, harus dikirimkan melalui email : acal_sigi@yahoo.co.id & acal.sigi@gmail.com
  5. Olah digital diperbolehkan, sebatas perbaikan kualitas foto (sharpening, cropping, color balance, level, dogde / burn dan saturasi warna) tanpa mengubah keaslian objek foto. Tidak diperkenankan mengirimkan foto berupa kombinasi / hasil olahan dari beberapa file (montase). 
  6. Setiap peserta dapat mengirimkan maksimal 3 (tiga) buah foto.
  7. Tidak diperbolehkan mencantumkan nama/judul atau tulisan, grafis atau penanda apapun yang nampak dalam foto. Data peserta dicantumkan dengan, berupa: Judul Foto, Lokasi pengambilan, Nama Peserta, Alamat Peserta, Nomer telepon/HP & Alamat Email.
  8. Peserta tidak dipungut biaya apapun dalam mengikuti kegiatan ini.
  9. Dilarang menyertakan karya foto yang mengandung unsur pornografi, sadisme, dan SARA, serta yang bertentangan dengan nilai-nilai kepatutan dan kesusilaan. 
  10. Peserta haruslah satu-satunya pemilik sah dari seluruh hak kekayaan intelektual atas hasil karya yang dikirimkan. Setiap pelanggaran atas hak kekayaan intelektual orang lain akan diproses secara hukum. Peserta membebaskan pelaksana dan penyelenggara dari setiap gugatan atau tuntutan ganti rugi yang diajukan pihak ketiga atas pelanggaran yang dilakukan oleh peserta dalam kegiatan ini. 
  11. "Model & Property Release" sepenuhnya menjadi tanggung jawab peserta. Pelaksana dan penyelenggara tidak bertanggung jawab atas tuntutan dari pihak foto model ataupun pihak lainnya sehubungan dengan materi kegiatan yang diikutsertakan dalam kegiatan ini.  
  12. Setiap foto yang dikirimkan harus belum pernah diikutsertakan dalam lomba / kompetisi lain dan belum pernah dipublikasikan untuk keperluan yang bersifat komersial serta harus bebas dari setiap kontrak atau ikatan lain yang membatasi peserta dan penyelenggara untuk melakukan publikasi foto tersebut pada media yang berhubungan dengan kegiatan ini. 
  13. Pelaksana dan penyelenggara berhak untuk mendiskualifikasi setiap materi lomba yang diikutsertakan, sebelum, selama, dan sesudah penilaian dilakukan, apabila materi yang diikutsertakan tidak memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan.
  14. Hak cipta atas foto pemenang dan terpilih tetap melekat pada fotografer.
  15. Penulis tidak bertanggung jawab atas penyalahgunaan hak cipta oleh pihak ketiga, sehubungan dengan hal ini, peserta tidak dapat melakukan tuntutan apapun juga.
  16. Foto-foto dan file yang diikutkan dalam kegiatan ini tidak akan dikembalikan, dan penulis  tidak akan mempergunakan file / foto yang bukan pemenang untuk keperluan apapun dan akan memusnahkan data file tersebut, demi menjaga / menghargai hak kekayaan intelektual dari para peserta.
  17. Batas penyerahan foto terakhir : 4 November 2013
  18. Penentuan pemenang akan dilakukan pada  : 29 Desember 2013
  19. Pengumuman pemenang dan penyerahan hadiah akan dilakukan pada Perayaan Hari Ulang Tahun Kota Ternate yang berlangsung pada tanggal 29 Desember 2013.
  20. Dengan keikutsertaannya dalam kegiatan ini, para peserta dianggap telah menerima dan menyetujui seluruh persyaratan.
  21. Keputusan Penulis adalah mutlak dan tidak dapat diganggu gugat. 
  22. Penulis tidak melayani segala bentuk surat menyurat dan berbagai korespondensi lainnya. Komunikasi elektronik (via email) dipergunakan hanya untuk pengiriman hasil foto.

Karena tidak ada sponsor dari pihak manapun...hadiahnya hanya berupa Plakat yang akan diserahkan kepada pemenang pada tanggal yang telah ditentukan!!! :)

1 Januari 2013

Tahun Baru 2013 - Kemacetan di ruas Jalan Falajawa 1


Photo By : acal_sigi

29 November 2011

Dowora oh Dowora





Fotografer : Zulkarnain A. Latif
Lokasi : Dowora (Kota Tidore Kepulauan)

4 November 2011

Peppi The Explorer mampir di kota Ternate


Tim Trans TV hadir di Kota Ternate untuk shooting program acara Peppy The Explorer, Kamis, 4 November 2011. Kedatangan Peppy ini kontan menghebohkan para pengunjung yang memadati taman Dodoku Ali. Disela-sela aktifitasnya, peppi sempat melayani para pengunjung yang mengajak foto bersama.

18 Agustus 2011

Arjuna Membuat SBY Sumringah

JAKARTA — Peringatan HUT Kemerdekaan ke 66 Republik Indonesia (RI) di Istana Negara, sejak pagi telah terkesan penuh aturan protokoler. Sejak dimulainya acara hingga pengibaran bendera oleh pasukan Paskibraka, suasana peringatan hari kemerdekaan berlangsung sangat serius.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang bertindak selaku inspektur upacara juga terlihat serius mengikuti satu persatu rangkaian upacara kenegaraan. Namun semuanya langsung mencair berkat seorang bocah cilik, Arjuna Pratama Djahir.

Dengan balutan baju warna kuning khas Maluku Utara daerah asalnya, Arjuna dengan ciamik membawakan lagu berjudul "Dari Jakarta ke Oslo untuk Bumi Kita". Lagu ciptaan Presiden SBY inipun berkumandang di Istana Negara menghibur para tamu undangan.

Lirik-lirik lagu menjadi semakin apik dengan iringan orkestra dan paduan musik dari Gita Bahana Nusantara. Lagu karya SBY yang berisikan lirik berat dan penuh pesan nasional itupun menjadi luntur dari kesan lagu seremonial. Suara lantang khas
anak-anak ditambah keaktifan Arjuna mengajak tamu undangan untuk ikut bernyanyi bersama, menjadikan suasana upacara yang semula penuh kekakuan menjadi lebih meriah.

Dari atas podium utama acara, berkali-kali Presiden SBY selaku pencipta lagu terlihat sumringah. SBY yang semula tampak serius menyimak satu persatu bait lagu ciptaannya dibuat sesekali tertawa oleh keaktifan Arjuna membawakan lagunya.
Di sampingnya Ibu Negara Ani Yudhoyono dan Wapres Boediono beserta istri tampak ikut terbawa suasana riang ala Arjuna.

Para undangan yang hadir pun terlihat sangat terhibur ketika melihat Arjuna mengajak ikut bernyanyi. ‘’Lagunya sih biasa saja, tapi yang membawakannya lucu, aktif dan suaranya bagus sekali. Jadi bagus lagu Pak SBY,’’ kata Dina (24), salah seorang tamu undangan.

Mantan wakil presiden Jusuf Kalla pun ikut memberikan pujian mengenai lagu SBY tersebut.’’Ya enaklah terdengar,’’ katanya.

Meski menilai secara keseluruhan lagu ciptaan SBY enak didengar namun bagi Guruh Soekarno Putra, lagu tersebut tetap biasa saja. Kata dia, siapapun pasti ingin mendengar karena rasa ingin tahu. ‘’Biasa saja. (Kita) dengerin ingin tahu dan itu cukup baik. (Kalau) soal layak ya tentulah layak,’’ kata Guruh.

Lagu berjudul "Dari Jakarta ke Oslo untuk Bumi Kita" sendiri dikarang SBY dengan semangat misi Indonesia ikut aktif dalam sidang UNFCCC di Oslo sekitar tiga tahun silam. Dalam lirik lagunya, SBY mengajak para pemimpin internasional meneguhkan dan wujudkan komitmen untuk melestarikan lingkungan hidup. Berikut lirik lagunya:

Bumi kita ini taman kehidupan

Hutan dan lautan di relung langit biru
Mari kita bersama cegah kerusakannya
Bersatulah wahai bangsa sedunia
Bersatulah kawan
Bersatu dunia untuk bumi kita

sumber : www.jpnn.com

6 Agustus 2010

Tiba di Ternate, SBY Disambut Soya-soya


TERNATE, KOMPAS.com - Setelah terbang selama satu jam dan 10 menit, pesawat Khusus Boeing 737-800 Garuda Indonesia, yang membawa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan rombongan, akhirnya tiba di Bandar Udara Sultan Babullah, Ternate, Maluku Utara, Selasa (3/8/2010) sore pukul 15.45 WIT.

Bersama sejumlah menteri, Presiden Yudhoyoni disambut oleh Gubernur Maluku Utara Thaib Armaiyn dan pimpinan daerah lainnya di tangga pesawat. Mobil Kepresidenan yang semuka disiapkan di landasan, akhirnya tidak digunakan Presiden. Presiden memilih menaiki tangga langsung ke ruang VIP.

Sebelum memasuki ruang VIP, Presiden disambut sekitar 20an anak-anak yang menari Soya-soya. Soya-soya adalah prajurit yang menjaga keamanan Sultan Ternate. Namun, tarian ini bisa digunakan sebagai tanda ucapan selamat datang para tamu penting di Kesultananan Ternate.

Saat meninggalkan ruang VIP Bandara Sultan Babullah, rombongan Presiden disambut dengan rebana yang dimainkan pelajar SLTA dan Majelis Taklim SBY Nurrusallam serta bocah-bocah Sekolah Dasar berseragam sekolah, hingga orang dewasa berpakaian daerah hingga hotel tempat Presiden menginap di kota Ternate. Mereka berteriak-teriak memanggil Presiden.

Selama penerbangan dari Bandar Udara Pattimura, Ambon, Maluku, pesawat kepresidenan beberapa kali terkena guncangan akibat angin kencang. Bahkan, saat mendarat, pesawat agak berguncang dan sedikit oleng karena landasan yang agak bergelombang.

Akan tetapi, akhirnya pesawat mendarat dengan mulus. Sebelumnya, penerbangan menuju Ternate ditunda satu jam lebih akibat hujan deras dan angin di sekitar Bandara Pattimura. Seharusnya, Presiden Dan rombongan terbang menuju Bandar Udara Sultan Babullah, Ternate, Maluku Utara, pukul 13.10 WIT. Namun, karena ditunda, pesawat baru take off pukul 14.15 WIT.

Sumber : www.kompas.com

18 Maret 2010

Asti Ananta dengan latar belakang gambar uang seribu


Sumber by : kapanlagi.com

3 November 2009

PEMKOT TERNATE TERBITKAN KAMUS BAHASA DAERAH TERNATE

Ternate, 28/9 (Antara/FINROLL News) - Pemerintah Kota Ternate, Maluku Utara (Malut) menerbitkan kamus bahasa daerah sebagai salah satu upaya melestarikan bahasa daerah Ternate, khususnya kepada para siswa di daerah itu.

"Penerbitan kamus bahasa daerah Ternate ini merupakan hasil kerja sama antara Pemkot Ternate dengan para budayawan dan tokoh adat di Ternate," kata Kabag Humas dan Protokoler Pemkab Ternate Yunus Yau di Ternate, Senin.

Kamus bahasa daerah Ternate tersebut akan didistribusikan kepada seluruh sekolah di Ternate serta berbagai pihak terkait lainnya sebagai acuan dalam mengajarkan dan mempelajari bahasa daerah Ternate.

Ia mengatakan upaya lain yang dilakukan Pemkot Ternate untuk melestarikan bahasa daerah Ternate adalah memasukkan bahasa daerah Ternate sebagai mata pelajaran muatan lokal di seluruh Sekolah Dasar di daerah ini.

Selain itu, Pemkot Ternate mengangkat guru kontrak khusus bahasa daerah Ternate pada semua sekolah dasar di daerah ini. Pemkot Ternate sampai saat ini telah mengangkat lebih dari seratus guru kontrak bahasa daerah Ternate.

"Anak-anak di Ternate belakangan ini banyak yang tidak mengenal bahasa daerah leluhurnya, oleh karena itu melalui terobosan Pemkot Ternate tersebut, diharapkan anak-anak di daerah ini bisa lebih mengenal bahasa daerah leluhurnya," ujar Yunus Yau.

Pemkot Ternate juga telah memprogramkan pembangunan rumah adat di sejumlah wilayah adat di Kota Ternate sebagai tempat bagi para tokoh adat di daerah ini dalam melaksanakan berbagai kegiatan yang terkait dengan adat.

Rumah adat di sejumlah wilayah tersebut dibangun sebagai bentuk perhatian dan kepedulian Pemkot Ternate untuk menunjukkan identitas budaya sejarah masyarakat Kota Ternate kepada berbagai pihak termasuk pada wisatawan yang akan berkunjung ke daerah ini.

Ia menambahkan, Pemkot Ternate bersama DPRD Kota Ternate telah pula melahirkan Perda mengenai pelindungan masyarakat adat dengan tujuan melindungi keberadaan masyarakat adat di daerah ini, khususnya yang terkait dengan keberadaan masyarakat ada di lingkungan Kesultanan Ternate. (T.PK-AF/L002)

23 November 2008

IstiLah (GLOSARIUM) daLam bahasa Ternate

Adat : Peraturan, kebiasaan, kesopanan, tradisi, budaya.
Alferis : Bintara, sersan.
Alifuru : Penduduk asli pedalaman Halmahera, disebut juga Halefuru.
Baru-baru : Serdadu
Asisten Residen : Pembantu Kepala Wilayah.
Bala : Warga, rakyat.
Barakati : Berkah
Batu Cina : Nama lain untukl Halmahera yang diberikan Portugis.
Beno : Tembok
Besi : Nama alternatif untuk Makian.
Bilolo : Sejenis siput laut yang dijadikan umpan untuk mengail ikan
Bobato : Arti harfiah: pelaksana peraturan. Secara umum digunakan untuk menunjuk kepala persekutuan, termasuk kadi, imam, khatib, dan madding.
Bobato Akhirat : Pimpinan spiritual, pembantu sultan untuk urusan keagamaan Islam.
Bobato Dunia : Pemimpin/pembantu sultan untuk urusan temporal/pemerintahan, penamaan kolektif, untuk pemimpin komunitas.
Boki : puteri, anak perempuan sultan dari isteri tertua.
Cakalele : Bahasa Ternate: hasa, tarian perang.
Controleur : Kontrolir, pengawas, kepala pemerintahan local.
Dano : Bangsawan yang tidak memegang jabatan kerajaan, bangsawan dari salah satu cabang kerabat kesultanan yang tidak memiliki hak menjadi sultan.
Dehe : Ujung, tanjung.
Dibo-dibo : Pedagang perantara ikan, hasil pertanian dan perkebunan dipasaran yang membeli dari produsen dengan harga semurah mungkin, kemudian dijual dengan harga semahal-mahalnya.
Dodego : Tempat duduk, posisi.
Dopolo Ngaruha : Empat pimpinan/kepala pemerintahan, yakni jogugu, Kapita Laut, Hukum Sangaji di Kesultanan Ternate. Disebut juga Komisi Ngaruha atau Tau Raha di Kesultanan Tidore.
Fala Raha : Rumah empat, empat klan, yakni Soa Marsaoli, Limatahu, Tomagola dan Tamaito.
Fanyira : Singkatan dari Ngofa Manyira.
Gapi : Nama alternatif Ternate yang digunakan pada masa awal.
Gezaghebber : Penguasa, kepala pemerintahan local setingkat distrik.
Ginoti : Kayu yang terapung.
Gufusang : Lalat besar berwarna hijau.
Hukum Syara : Hakim pengadilan agama Islam dalam lingkungan kesultanan.
Hukum : Magisttraat, fungsionaris yang memegang posisi antara pemerintahan kerajaan dan pemimpin komunitas, hakim.
Imam : Pemimpin dalam pelaksanaan ibadah agama Islam, pembantu sultan dalam bidang agama Islam.
Jiko ma-kolano : Sebutan kepala distrik di Halmahera.
Jogugu : Perdana Menteri, pemegang kekuasaan pemerintahan (eksekutif).
Jojaru : Gadis yang belum menikah.
Juanga : perahu untuk berperang. Juanga ukuran sedang dapat memuat sampai 200 penumpang, juanga besar dapat memuat 300 – 400 orang.
Kadi : Hakim agama, ketua majelis peradilan agama tertinggi kerajaan, ketua para imam, khatib dan moding.
Kaicil : Pangeran, putera sultan dari permaisuri utama. Kaicil berasal dari bahasa jawa: kyai cilik (kiyai kecil).
Kalaudi : Pejabat kerajaan yang mengurus pajak, gelar pejabat di daerah taklukan kesultanan Ternate.
Kalem : Sebutan untuk kadi.
Kampung : Lingkungan kediaman atau desa.
Kapita : Pelaksana kekuasaan militer, komandan pasukan militer, kapten.
Kapita Kie : Pelaksana perang negeri kepala pasukan pengawal sultan.
Kapita Laut : Pelaksana perang laut, laksamana laut, panglima angkatan laut.
Kapita Ngofa : Kapten yang berasal dari keluarga sultan, kapten pangeran.
Khatib : Pejabat agama yang bertugas membaca khutbah setiap sembahyang jumat.
Khatib Dongofi : Khatib cadangan.
Khatib Juru Tulis : Khatib dengan tugas sebagai sekretaris.
Kie : Gunung, pulau yang memilik gunung, kerajaan yang berpusat pada sebuah pulau seperti Ternate dan Tidore.
Kie Besi : Nama gunung berapi di Makian.
Kie Ternate : Gunung Ternate (Gamalama), Pulau Ternate, Kerajaan Ternate.
Kolano : Raja, sultan.
Kora-kora : Perahu perang yang digunakan di Maluku Tengah. Di Maliku Utara-Ternate, Tidore, Bacan dan Halmahera-disebut juanga.
Landraad : Pengadilan Negeri.
Landschap : Daerah Swapraja.
Landvoogd : Wali Negeri, Gubernur di masa VOC.
Letnan : Pangkat perwira dalam ketentaraan yang di adopsi dari bahasa Belanda, luitenant.
Letnan Ngofa : Letnan dari kalangan bangsawan kerajaan.
Limau : Tempat yang diperkuat, benteng, ibukota.
Mahimo : Senior, lebih tua, wakil Kimalaha, wakil kepala komunitas.
Mara : Istilah dalam bahasa Ternate untuk Makian.
Mayor Ngofa : Mayor dari keluarga kesultanan, pangeran mayor.
Minister Van Kolonie : Menteri Utusan Daerah Jajahan Belanda. Terakhir berganti nama menjadi Minister Van Overzeegebied, Menteri Utusan Daerah seberang.
Moding : Anggota/staf imam, muezzin yang ditugaskan di masjid.
Moloku Kie Raha : Empat gunung Maluku. Semula menunjuk kepada Ternate, Tidore, Moti, Makian. Kemudian berkembang dan memiliki arti empat kerajaan Maluku, yakni Ternate, Tidore, Jailolo dan Bacan.
Ngase : Retribusi hasil hutan atau hasil laut tertentu.
Ngofa Manyira : Titel untuk kepala desa atau kepala soa. Secara harfiah, ngofa manyira bermakna anak yang lebih tua atau anak tertua.
Nyai Cili : Puteri Kerajaan, puteri sultan dari permaisuri utama. Nyai cili berasal dari bahasa Jawa: nyai dan cilik. Juga disebut Boki.
Resident : Residen, pegawai tinggi pemerintahan dalam negeri yang mengepalai suatu wilayah.
Sabua Lamo : Nama suku di Tobelo.
Sadeha : Komisaris, pelaksana tugas yang diberikan sultan, pemelihara benda-benda kerajaan tertentu.
Salahakan : Gelar untuk gubernur di daerah taklukan.
Salawaku : Tameng tradisional Maluku.
Sangaji : Gelar kepala komunitas tradisional, atau kepala distrik.
Syara : Undang-undang agama Islam, hokum atau syariat Islam, terutama yang berkaitan dengan masalah keperdataan. Berasal dari bahasa Arab, syar’i.
Utusan : Duta, penguasa setempat yang diutus sultan. Utusan terutama mengurus kepentingan sultan di suatu daerah, seperti memungut upeti, dan sebagainya.

Sumber by : Buku Kepulauan Rempah-rempah

19 November 2008

Festival Keraton Nusantara VI Dibuka dengan Kirab Prajurit

Festival Keraton Nusantara VI yang berlangsung di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, resmi dibuka di Sungguminasa, ibu kota Gowa, Sabtu (15/11). Pembukaan ditandai dengan kirab 2.651 prajurit dan abdi dalem dari 30 kerajaan di Nusantara yang mengenakan pakaian adat masing- masing.

Sejak pukul 12.30 Wita, peserta kirab berkumpul di Lapangan Syech Yusuf, Sungguminasa. Mereka menyaksikan pertunjukan tari yang mengisahkan sejarah Kerajaan Gowa. Mulai dari pertikaian sembilan kerajaan kecil yang kemudian dipersatukan Tumanurung menjadi Kerajaan Gowa. Ditampilkan pula perlawanan Hasanuddin terhadap Belanda, yang berakhir dengan Perjanjian Bungaya yang ditolak sejumlah bangsawan Gowa.

Pertunjukan yang melibatkan sekitar 100 penari itu mengisahkan sejarah hingga masa pemerintahan raja terakhir Gowa, Andi Ijo Karaeng Lalolang. Raja Gowa ke-36 itu yang menyatakan Gowa menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ia menjadi bupati pertama Kabupaten Gowa setelah Indonesia merdeka.

Kirab dimulai pukul 15.15, dengan parade 350 prajurit dan pengikut Kerajaan Gowa sebagai pembuka. Di belakangnya menyusul 300 prajurit Kerajaan Tallo—kerajaan kembaran Kerajaan Gowa. Kemudian ada rombongan prajurit Keraton Yogyakarta, Kesultanan Ternate, dan Keraton Cirebon, diikuti ribuan prajurit dari 25 keraton lain.

Kirab melintasi Jalan Tumanurung, Palantikan, Syech Yusuf, Andi Tonro, Siradjuddin Daeng Rani, hingga Istana Balla Lompoa. Pakaian prajurit yang berwarna-warni dengan model unik berikut berbagai tetabuhan yang mengiringi kirab menarik minat warga untuk menonton.

Ribuan warga memadati Lapangan Syech Yusuf maupun berdiri di tepi jalan yang menjadi rute kirab sepanjang 4,6 km itu.

Festival Keraton Nusantara VI akan berlangsung hingga Senin (17/11). Selain menggelar kirab budaya, festival yang diikuti 43 kerajaan di Nusantara itu memamerkan benda pusaka dari 31 kerajaan di Nusantara.

Benda yang dipamerkan, antara lain permata, mahkota, koin mata uang kuno, kain, keris, pedang, tombak, peti penyimpan pusaka, perabotan dari logam mulia, foto, silsilah keluarga kerajaan, kitab kuno, bendera pusaka kerajaan, dan lukisan. Pameran bertempat di Istana Tamalate, kompleks Istana Balla Lompoa.

Di tempat yang sama berlangsung pameran kerajinan tradisional. Tari klasik dari berbagai keraton akan dipentaskan di Istana Tamalate, pada Sabtu dan Minggu pukul 19.00.

Minggu pagi, 38 kerajaan di Nusantara akan mengikuti dialog budaya di Hotel Celebes, Malino, Gowa. Acara akan dilanjutkan dengan Forum Raja-raja Nusantara, yaitu pertemuan semua raja yang menghadiri Festival Keraton Nusantara VI.


Sumber By : Kompas Cetak

7 November 2008

Batu Angus, Ternate


Oleh : Wiko Rahardjo

Ada suatu kawasan di kota Ternate yang disebut Batu Angus. Inilah sisa lelehan larva Gunung Gamalama yang megah itu.

Pada zaman Pleistochen, daratan pulau Ternate masih merupakan satu daratan dengan pulau-pulau seperti Morotai, Halmahera, Hiri, Maitara, Tidore, Mare, Moti, Makian, Kayoa, Bacan dan sebagainya yang terletak dalam rangkaian gunung berapi Zone Maluku Utara. Deretan pulau-pulau ini berada di sepanjang pantai barat pulau Halmahera di Propinsi Maluku Utara.
Perubahan alam yang terjadi selama ratusan-ribu tahun dan pergeseran kulit bumi secara evolusi telah membentuk pulau-pulau kecil di sepanjang "Jazirah tuil Jabal Mulku", (Istilah yang sering dipergunakan oleh Buya Hamka). Halmahera merupakan Pulau Induk dari di kawasan ini sekaligus menjadi dataran tertua, selain pulau Seram di Maluku Tengah.
Dari sudut pandang geologisnya, pulau Ternate merupakan salah satu dari deretan pulau yang memiliki gunung berapi, dari barisan garis ”strato vulkano active at south pacific” yang melintang di kawasan Asia timur ke Asia tenggara, dari utara ke selatan. Salah satu yang masih aktif di kepulauan Maluku Utara adalah gunung “Gamalama” di pulau Ternate dengan ketinggian 1.730 m. (Bangsa Portugis menyebutnya Nostra Senora del Rozario).
Gamalama tercatat pernah beberapa meletuskan semburannya pada tahun 1608, 1635, 1653, 1840 dan 1862. Letusan terhebat yang tercatat terjadi pada pertengahan abad ke-18, tepatnya pada tanggal 10 Maret 1737 yang bertepatan dengan 22 Dzulkaidah 1149.H yang mengakibatkan aliran lahar dari puncak hingga mencapai laut yang dikenal sekarang dengan “Batu Angus”. (sumber; F.S.A. de Clerq, Bijdragen tot de Kennis der Residentie van Ternate, Leiden, 1890).
Sisa-sisa letusan itu hinggi kini masih bisa Anda saksikan jika berkunjung ke Desa Batu Angus, sekitar lima belas menit perjalanan darat ke arah utara dari pusat kota Ternate. Di sana serakan larva beku membentuk komposisi unik tersendiri. Menyajikan pemandangan yang menakjubkan karena berlatar belakang Gunung gamalama yang selalu terselimuti Kabut tipis.
Batu Angus, demikian warga ternate menyebut serakan tersebut. Tahun demi tahun pemanfaatan terhadap bebatuan yang berwarna hitam legam ini pun terus berjalan. Warga memanfaatan serakan-serakan tersebut guna sebagai bahan bangunan. Terutama pondasi rumah.
Dari kawasan Batu Angus, jika anda berhasil mencapai salah satu tempat tertingginya akan menyaksikan hamparan laut nan luas. Memanjakan mata bagi yang suka berpetualang.

"DABUS", Ritual Kebal Senjata Tajam di Ternate

Seperti halnya di dua tempat lain di Nusantara yakni; Aceh dan Banten, Ternate dan sekitarnya juga adalah tempat tumbuh dan berkembangnya seni Debus di wilayah timur Nusantara yang ada sejak ratusan tahun lalu. Debus di Ternate disebut Dabus atau Badabus. Ritual ini biasanya dipertunjukkan atau dilakukan dalam suatu hajatan yang berupa upacara ritual untuk menebus kaul seseorang yang pernah mengucapkan hajat akan mempertunjukkan Dabus, apabila ia selamat dari sesuatu musibah atau penyakit berat yang dideritanya.
Pertunjukan Dabus ini terdapat hampir di seluruh jazirah Maluku Utara, termasuk Ternate dan Tidore. Pelaksanaan ritual Dabus biasanya dipimpin oleh seorang guru agama ahli kebatinan, yang biasanya disebut “Joguru” yang dalam pelaksanaannya Dabus ia harus disapa; “Syekh”. Ia dibantu oleh para muridnya/santri yang berjumlah sekitar lima hingga sepuluh orang.

Alat khusus untuk pertunjukkan Dabus terdiri dari dua buah batang besi bulat sebesar ibu jari yang ujungnya diasah runcing dan tajam dan di bagian ujung lainnya dibentuk dengan kayu bulat sebesar kepalan tangan dan dihiasi dengan untaian rantai besi kecil. Alat Dabus di Ternate tidak jauh berbeda dengan yang pernah saya lihat di Banten. Materi ritual lainnya adalah seperangkat alat untuk tempat bakar kemenyan, arang dan semacam Anglo beserta beberapa gumpalan kemenyan yang akan dibakar selama pelaksanaan ritual ini. Sedangkan peralatan pendukung lainnya adalah rebana dan cikir serta kitab zikir yang dipakai untuk mengiringi pelaksanaan ritual.

Pertunjukkan Dabus di Ternate biasanya dilakukan pada malam hari dan lokasi yang dipilih sebagian besar di ruang utama rumah tinggal atau di teras rumah yang agak lebar. Pertunjukkan itu dimulai pada ba’da Isya. Setelah segala sesuatu dipersiapkan oleh pelaksana hajatan. Pelaksana hajat duduk berhadapan dengan sang Syekh lalu didoakan, selanjutnya dipersilakan menyaksikan pelaksanaan ritual tersebut.

Ritual dimulai dengan pembacaan lirik-lirik dan disertai zikir dan semacam mantra-mantra rahasia dalam bahasa Ternate campur Arab. Syekh dengan mengenakan jubah kebesaran (biasanya berwarna putih) duduk menghadap kiblat, dan dikelilingi oleh murid-muridnya serta orang-orang yang ingin berpartisipasi dalam pertunjukkan tersebut dan mengikuti setiap pembacaan doa dan zikir dari sang Syekh. Ritual ini berlangsung sekitar sepuluh menit.

Setelah itu, kemenyan dibakar dan bila asap telah mengepul, alat Dabus yang terbuat dari besi dan berantai tersebut diasapi. Biasanya alat Dabus ini terdiri dari beberapa pasang. (3 sampai 5 pasang). Setelah proses ini selesai, sang Syekh mencoba menikam besi tajam tersebut ke dada dan pahanya untuk memastikan bahwa segala sesuatu sudah berjalan sesuai rencana dan alat tersebut sudah bisa dipergunakan peserta untuk memulai pertunjukkan Dabus.

Sang Syekh memberikan isyarat kepada orang pertama yang memulai pertunjukkan untuk maju sambil jalan jongkok ke dapat sang Syekh untuk bersalaman dan menerima alat Dabus. Pada saat itu irama rebana dan sair-sair serta nyanyian zikir mulai didendangkan oleh peserta lain yang sudah memegang rebana dan kitab zikir.

Setelah menerima ia terus duduk di depan Syekh dan diasapi sekedar saja oleh Syekh kemudian ia menggoyangkan kepala dan badannya ke kiri dan ke kanan beberapa kali lalu membasuh alat Dabus tersebut dari pundak kanan ke atas kepala dan turun ke pundak kiri. Ia lalu mengangkat alat besi tajam tersebut yang sudah dipegang masing-masing di tangan kiri dan kanan dan mencoba menghujamkan ke dadanya bertubi-tubi beberapa kali. Kemudian ia berdiri dan mulai menari-nari sambil menghujamkan besi ke dada bahkan juga ke pahanya. Masing-masing peserta tidak dibatasi waktu, ada yang Cuma lima menit, ada pula yang sampai setengah jam tanpa henti. Kadang kala darah menetes tapi hanya sedikit pada saat pertama memulai pertunjukkan, setelah itu tidak ada darah lagi.

Kadang pula ada peserta ritual yang menanggalkan baju/kaos dan bertelanjang dada. Sebagian besar peserta yang melaksanakan ini rata-rata antara lima hingga sepuluh menit. Pertunjukan diganti lagi oleh beberapa orang lain secara bersamaan. Setiap peserta bisa mengulangi lagi beberapa kali. Dalam pelaksanaannya, biasanya pada menit kedua atau ketiga masih dilakukan dengan hati-hati dan perlahan-lahan, tapi setelah itu semakin keras dan sebagian besar perserta melakukannya sambil berjingkrak-jingkrak bahkan sambil melompat.

Semua para peserta melakukan ritual ini sambil menari sesuai iringan rebana yang terus didendangkan. Menurut mereka, besi tajam yang ditusukkan ke dada atau kulit kita tidak sakit sama sekali melainkan terasa gatal sehingga memacu peserta untuk berjingkrak dan melompat-lompat, bahkan ingin mengulangi lagi setelah turun istirahat beberapa saat untuk memberikan kesempatan kepada orang lain.

Biasanya gerakan tusukan mengikuti irama rebana yang kadang lambat kadang cepat. Seluruh peserta yang melaksanakan ritual Dabus ini dalam keadaan sadar. Namun kadang ada juga sering terjadi kesurupan, dan biasanya peserta tersebut langsung dihentikan oleh sang Syekh, tapi hal ini jarang terjadi.

Sebelum pergantian atau selesai tahapan pertunjukan, setiap orang yang hendak istirahat harus mengembalikan alat Dabus ke sang Syekh dengan cara seperti menerima alat Dabus tadi. Setelah diserahkan ke sang Syekh dan diletakkan di atas sebuah bantal di depan sang Syekh sebelum diambil oleh orang yang menggantikannya.

Peserta yang melakukan ritual ini biasanya tiga sampai lima orang sekaligus, sehingga ruangan yang digunkan untuk ritual ini harus mendukung. Luka-luka kecil akibat Dabus ini kemudian dibacakan mantra oleh sang Syekh dan dibasuh ke lukanya, lalu mereka bersalaman, setelah itu barulah pesertanya berdiri untuk istirahat atau berhenti.

Sementara itu pertunjukkan Dabus terus berlangsung yang dilakukan oleh yang lainnya secara bergilir. Siapa pun bisa menjadi peserta dalam hajatan ini. Ritual ini menjadi tontonan warga di sekitar hingga selesai pada tengah malam. Tidak satu pun peserta Dabus yang terinfeksi sebagai akibat dari pertunjukkan Dabus ini. Anehnya, karena keesokan harinya luka kecil bekas tusukan besi tajam sudah mengering dan hanya meninggalkan bekas kecil yang tidak seberapa.

Dari gambaran pelaksanaan Dabus ini, dapat disimpulkan bahwa Dabus adalah pertunjukkan rakyat yang bersifat ritual karena pelaksanaannya harus dipandu dan dipimpin oleh orang yang mengetahui seluk beluk ritual ini, yaitu seorang “Syekh” dan para “Syaman”.

Setahu saya di Indonesia, ritual Dabus atau Debus seperti ini, hanya terdapat di tiga tempat, yaitu; Nanggro Aceh Darussalam, Banten dan Ternate. Mungkin pula ada juga di tempat-tempat lain, tapi dengan nuansa dan sebutan yang berbeda pula. Wallahu wa’lam.

19 Juli 2008

PERSITER Ternate


Klub ini didirikan tahun 1958 dan secara resmi menjadi anggota PSSI pada tahun 1961. Nama stadion yang menjadi basis Persiter Ternate adalah Stadion Gelora Kie Raha yang menjadi kebanggaan warga masyarakat Kota Ternate. Setelah penantian selama 10 tahun di Divisi 1, akhirnya tim Persiter lolos ke divisi utama setelah keluar sebagai juara 3 dalam partai 8 besar Divisi I tahun 2005 lalu.


Data Klub
Berdiri: 1958
Julukan: Laskar Kie Raha
Alamat: Jl. Gelora Kie Raha, Ternate
No. Tel: (0921) 21020
No. Fax: (0921) 24982
Stadion: Gelora Kie Raha
Kapasitas: 15.000 Penonton
Ketua Umum: Drs. H. Syamsir Andilli
Manajer: Burhan Abdurrahman
Pelatih: Jacksen F Tiago (2007) (2008 = ???)
Supporter: Superman (Suporter Persiter Mania)

Statistik
1994/1995 : Juara Divisi II Liga Indonesia
1995/1996 : Divisi I Liga Indonesia
1996/1997 : Divisi I Liga Indonesia
1997/1998 : Divisi I Liga Indonesia
1998/1999 : Divisi I Liga Indonesia
1999/2000 : Divisi I Liga Indonesia
2001 : Divisi I Liga Indonesia
2002 : Divisi I Liga Indonesia
2003 : Divisi I Liga Indonesia
2004 : Divisi I Liga Indonesia
2005 : Peringkat 3 Divisi I (promosi ke Divisi Utama)

Liga Indonesia
2006 : Peringkat 9 Divisi Utama Wilayah Timur Liga Indonesia
2007 : Peringkat 6 wilayah timur Liga Indonesia
2008 : Superliga = ????

Sumber : www.detik.com

Info HUT Kota Ternate

Dalam rangka menyongsong Hari Ulang tahun Kota Ternate yang ke 747 yang jatuh pada tanggal 29 Desember 2008, Pemerintah Daerah Kota Ternate saat ini menagadakan pameran
Pembangunan dan pasar malam bertempat di area Jl Boulevard pesisir pantai Kota Ternate nan indah. Pameran pembangunan ini di ikuti oleh semua instansi, dinas, jawatan, di lingkungan pemda Kota Ternate, BUMD,BUMN, Dunia usaha/industri. Acara ini semalam di buka langsung oleh Bapak Walikota Ternate dengan diramaikan oleh kesenian khas daerah, vocal group, tari-tarian dan lain sebagainya, dan di lanjutkan dengan kunjungan muspida di semua stand yang ikut hadir .

Khusus untuk stand Dinas pendidikan Nasional Kota Ternate kami juga menghadirkan program andalan Depdiknas saat ini yang tak lain dan tak bukan adalah “Jardiknas” ( Jejaring Pendidikan Nasional). selain itu di stand ini juga di ikuti oleh beberapa sekolah dengan ciri khas masing-masing baik SMP, SMA, dan SMK. Untuk Jardiknas kami mensosialisasikan keberadaan Jardiknas, ICT Center, NUPTK (Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan), NPSN ( Nomor Pokok Sekolah Nasional), dan NISN (Nomor Induk Siswa Nasional). Untuk memperlancar sosialisasi ini kami menyediakan koneksi Jardiknas yang terhubung dengan 2 PC dan 2 buah Notebook, yang terkonek dengan ICT Center Kota Ternate ( SMK Negeri 2 Kota Ternate) dan internet gratis kepada masyarakat pengunjung.
Stan ini mendapat antusias dari masyarakat pengunjung baik yang menanyakan tentang keberadaan jardiknas, maupun yang mau mengakses NPSN, NUPTK dan NISN, serta situs lain yang berhubungan dengan pendidikan. Pengunjung lebih banyak di dominasi oleh para siswa, para pendidik dan pemerhati pendidikan.
Demikian sekilas info dari arena Pameran menyongsong HUT Kota Ternate
Demikian sekilas info dari area Pameran HUT Kota Ternate

Sumber : http://blogger.diknas.go.id


Ternate Travel Guide


The tiny volcanic island of Ternate is one of the four historic sultanates of North Maluku that were once the World's only source of cloves and attracted traders from across the globe. Today Ternate is the capital of, and the main gateway into North Maluku province. It offers several historical sights and great volcanic scenery, dominated by active Gunung Gamalama. It is worth hopping over to its close neighbour Tidore, too.

Ternate, the most prominent of the four Moluccan sultanates, dates its foundation to 1257 AD. The ruling house traces its origins to the arrival of the Muslim sage, Sayyid Ja'afar Sadik, but the exact line of descent is subject to contradictory genealogies. The genealogies are only certain from the late sixteenth century Sultan, Zainal Abidin.

The island shares a unique history with the neighbouring states of Jailolo, Tidore and Bacan. All four share the same legendary past in which they form a cosmic whole, almost a separate universe or realm. In this universe, each state has its appointed place. Ternate forms the most important unit and its ruler is termed the Kolano ma-Luku (ruler of the Moluccas). Modern history, however, suggests that Ternate's position owes its place military triumphs, successfully concluded when it vanquished Tidore and Jailolo in 1380.

Selengkapnya : www.world66.com

13 Juli 2008

Tahukah Anda...

Islam masuk ke Nusantara dibawa para pedagang dari Gujarat, India, di abad ke 14 Masehi. Teori masuknya Islam ke Nusantara dari Gujarat ini disebut juga sebagai Teori Gujarat. Demikian menurut buku-buku sejarah yang sampai sekarang masih menjadi buku pegangan bagi para pelajar kita, dari tingkat sekolah dasar hingga lanjutan atas, bahkan di beberapa perguruan tinggi.

Namun, tahukah Anda bahwa Teori Gujarat ini berasal dari seorang orientalis asal Belanda yang seluruh hidupnya didedikasikan untuk menghancurkan Islam?

Orientalis ini bernama Snouck Hurgronje, yang demi mencapai tujuannya, ia mempelajari bahasa Arab dengan sangat giat, mengaku sebagai seorang Muslim, dan bahkan mengawini seorang Muslimah, anak seorang tokoh di zamannya.

Menurut sejumlah pakar sejarah dan juga arkeolog, jauh sebelum Nabi Muhammad SAW menerima wahyu, telah terjadi kontak dagang antara para pedagang Cina, Nusantara, dan Arab. Jalur perdagangan selatan ini sudah ramai saat itu.

Mengutip buku Gerilya Salib di Serambi Makkah (Rizki Ridyasmara, Pustaka Alkautsar, 2006) yang banyak memaparkan bukti-bukti sejarah soal masuknya Islam di Nusantara, Peter Bellwood, Reader in Archaeology di Australia National University, telah melakukan banyak penelitian arkeologis di Polynesia dan Asia Tenggara.

Bellwood menemukan bukti-bukti yang menunjukkan bahwa sebelum abad kelima masehi, yang berarti Nabi Muhammad SAW belum lahir, beberapa jalur perdagangan utama telah berkembang menghubungkan kepulauan Nusantara dengan Cina. Temuan beberapa tembikar Cina serta benda-benda perunggu dari zaman Dinasti Han dan zaman-zaman sesudahnya di selatan Sumatera dan di Jawa Timur membuktikan hal ini.

Dalam catatan kakinya Bellwood menulis, “Museum Nasional di Jakarta memiliki beberapa bejana keramik dari beberapa situs di Sumatera Utara. Selain itu, banyak barang perunggu Cina, yang beberapa di antaranya mungkin bertarikh akhir masa Dinasti Zhou (sebelum 221 SM), berada dalam koleksi pribadi di London. Benda-benda ini dilaporkan berasal dari kuburan di Lumajang, Jawa Timur, yang sudah sering dijarah…” Bellwood dengan ini hendak menyatakan bahwa sebelum tahun 221 SM, para pedagang pribumi diketahui telah melakukan hubungan dagang dengan para pedagang dari Cina.

Masih menurutnya, perdagangan pada zaman itu di Nusantara dilakukan antar sesama pedagang, tanpa ikut campurnya kerajaan, jika yang dimaksudkan kerajaan adalah pemerintahan dengan raja dan memiliki wilayah yang luas. Sebab kerajaan Budha Sriwijaya yang berpusat di selatan Sumatera baru didirikan pada tahun 607 Masehi (Wolters 1967; Hall 1967, 1985). Tapi bisa saja terjadi, “kerajaan-kerajaan kecil” yang tersebar di beberapa pesisir pantai sudah berdiri, walau yang terakhir ini tidak dijumpai catatannya.

Di Jawa, masa sebelum masehi juga tidak ada catatan tertulisnya. Pangeran Aji Saka sendiri baru “diketahui” memulai sistem penulisan huruf Jawi kuno berdasarkan pada tipologi huruf Hindustan pada masa antara 0 sampai 100 Masehi. Dalam periode ini di Kalimantan telah berdiri Kerajaan Hindu Kutai dan Kerajaan Langasuka di Kedah, Malaya. Tarumanegara di Jawa Barat baru berdiri tahun 400-an Masehi. Di Sumatera, agama Budha baru menyebar pada tahun 425 Masehi dan mencapai kejayaan pada masa Kerajaan Sriwijaya.


Sumber : http://www.swaramuslim.com
 
AksaL Achmad | Powered By Blogspot | © Copyright  2008