29 November 2008

satu sisi mata uang

28 November 2008

Warisan Ternate

Imperium nusantara timur yang dipimpin Ternate memang telah runtuh sejak pertengahan abad ke-17 namun pengaruh Ternate sebagai kerajaan dengan sejarah yang panjang masih terus terasa hingga berabad kemudian. Ternate memiliki andil yang sangat besar dalam kebudayaan nusantara bagian timur khususnya Sulawesi (utara dan pesisir timur) dan Maluku. Pengaruh itu mencakup agama, adat istiadat dan bahasa.
Sebagai kerajaan pertama yang memeluk Islam Ternate memiliki peran yang besar dalam upaya pengislaman dan pengenalan syariat-syariat Islam di wilayah timur nusantara dan bagian selatan Filipina. Bentuk organisasi kesultanan serta penerapan syariat Islam yang diperkenalkan pertama kali oleh sultan Zainal Abidin menjadi standar yang diikuti semua kerajaan di Maluku hampir tanpa perubahan yang berarti. Keberhasilan rakyat Ternate dibawah sultan Baabullah dalam mengusir Portugis tahun 1575 merupakan kemenangan pertama pribumi nusantara atas kekuatan barat, oleh karenanya almarhum Buya Hamka bahkan memuji kemenangan rakyat Ternate ini telah menunda penjajahan barat atas bumi nusantara selama 100 tahun sekaligus memperkokoh kedudukan Islam, dan sekiranya rakyat Ternate gagal niscaya wilayah timur Indonesia akan menjadi pusat kristen seperti halnya Filipina.
Kedudukan Ternate sebagai kerajaan yang berpengaruh turut pula mengangkat derajat Bahasa Ternate sebagai bahasa pergaulan di berbagai wilayah yang berada dibawah pengaruhnya. Prof E.K.W. Masinambow dalam tulisannya; “Bahasa Ternate dalam konteks bahasa - bahasa Austronesia dan Non Austronesia” mengemukakan bahwa bahasa Ternate memiliki dampak terbesar terhadap bahasa Melayu yang digunakan masyarakat timur Indonesia. Sebanyak 46% kosakata bahasa Melayu di Manado diambil dari bahasa Ternate. Bahasa Melayu – Ternate ini kini digunakan luas di Indonesia Timur terutama Sulawesi Utara, pesisir timur Sulawesi Tengah dan Selatan, Maluku dan Papua dengan dialek yang berbeda – beda. Dua naskah Melayu tertua di dunia adalah naskah surat sultan Ternate Abu Hayat II kepada Raja Portugal tanggal 27 April dan 8 November 1521 yang saat ini masih tersimpan di museum Lisabon – Portugal.

Sumber By : wikipedia.org

Kota Ternate

Kota Ternate :
Kota Ternate adalah ibukota dari provinsi Maluku Utara, Indonesia. Kota ini memiliki luas wilayah 547,736 km² dan berpenduduk sebanyak 163.467 jiwa (2000). Kota ini terletak dibawah kaki gunung api Gamalama.

Tempat menarik :
Beberapa tempat wisata alam yang menarik, antara lain Pantai Sulamadaha, Danau Laguna, Danau Tolire, Pantai Bobane Ici, Batu Angus. Keraton kesultanan Ternate juga berdiri kokoh di kota ini, terletak di Salero menghadap ke arah timur berhadapan dengan pulau Halmahera.
Pusat tempat makanan di kota ini terletak di Swering, tepat berada di lapangan didepan kantor Gubernur Provinsi Maluku Utara. Namun hanya beraktivitas selepas sore hingga tengah malam.

Sarana transportasi :
Kota Ternate yang memiliki Bandara Sultan Babullah dapat ditempuh melalui udara. Beberapa maskapai penerbangan yang melayani jalur ini antara lain Wings Air (Group Lion Air), Merpati Airlines, Express Air dan Trigana Air. Penerbangan melalui kota Makassar, Manado maupun Sorong.
Kota ini juga memiliki pelabuhan laut A. Yani dengan jalur pelayaran yang dilalui kapal Pelni dua kali perminggu. Dua perusahaan ekspedisi kapal angkutan adalah Mentari dan Tanto.
Transportasi darat di kota ini menggunakan angkutan penumpang dengan mobil Suzuki Carry. Sejak akhir tahun 2005, telah mulai beroperasi armada taksi milik swasta dengan jumlah armada sekitar 50 unit.

Khas daerah :
Maluku Utara memiliki berbagai makanan khas daerah antara lain popeda (sagu), ketam kenari, halua kenari, bagea, serta hasil olahan ikan seperti ikan asap(ikan Fufu), gohu ikan, dll.
Perhiasan dari daerah ini adalah mutiara laut dan batu bacan.

Sumber By : wikipedia.org

24 November 2008

ProFiL Ternate

Ternate terletak antara 127 3 Bujur Timur dan 124 Bujur Barat serta 3 -3 Lintang Selatan berbatasan dengan
Sebelah Utara : Samudera Pasifik
Sebelah Selatan : Laut Maluku
Sebelah Barat : Laut Maluku
Sebelah Timur : Pulau Halmahera
Kota Ternate dengan memiliki berbagai komponen alam yaitu Laut, Pulau, Danau, Gunung, menggambarkan ciri topografis yang bervariasi yang didominasi oleh dataran kemiringan diatas 40 derajat seluas 127,37 km atau 51 % dari luas wilayah dan terdapat di Pulau Ternate, Pulau Hiri dan Pulau Moti, sedangkan Pulau Mayau dan Tifure merupakan wilayah dataran rendah yang dikelilingi oleh Laut bebas antar Pulau Ternate dengan Bitung - Sulawesi Utara
Ciri topografi atau kemiringan rendah terletak linear memanjang mengikuti beberapa pesisir pantai pada posisi 0 2 derajat seluas 54,96 km2 atau 22 %.

23 November 2008

IstiLah (GLOSARIUM) daLam bahasa Ternate

Adat : Peraturan, kebiasaan, kesopanan, tradisi, budaya.
Alferis : Bintara, sersan.
Alifuru : Penduduk asli pedalaman Halmahera, disebut juga Halefuru.
Baru-baru : Serdadu
Asisten Residen : Pembantu Kepala Wilayah.
Bala : Warga, rakyat.
Barakati : Berkah
Batu Cina : Nama lain untukl Halmahera yang diberikan Portugis.
Beno : Tembok
Besi : Nama alternatif untuk Makian.
Bilolo : Sejenis siput laut yang dijadikan umpan untuk mengail ikan
Bobato : Arti harfiah: pelaksana peraturan. Secara umum digunakan untuk menunjuk kepala persekutuan, termasuk kadi, imam, khatib, dan madding.
Bobato Akhirat : Pimpinan spiritual, pembantu sultan untuk urusan keagamaan Islam.
Bobato Dunia : Pemimpin/pembantu sultan untuk urusan temporal/pemerintahan, penamaan kolektif, untuk pemimpin komunitas.
Boki : puteri, anak perempuan sultan dari isteri tertua.
Cakalele : Bahasa Ternate: hasa, tarian perang.
Controleur : Kontrolir, pengawas, kepala pemerintahan local.
Dano : Bangsawan yang tidak memegang jabatan kerajaan, bangsawan dari salah satu cabang kerabat kesultanan yang tidak memiliki hak menjadi sultan.
Dehe : Ujung, tanjung.
Dibo-dibo : Pedagang perantara ikan, hasil pertanian dan perkebunan dipasaran yang membeli dari produsen dengan harga semurah mungkin, kemudian dijual dengan harga semahal-mahalnya.
Dodego : Tempat duduk, posisi.
Dopolo Ngaruha : Empat pimpinan/kepala pemerintahan, yakni jogugu, Kapita Laut, Hukum Sangaji di Kesultanan Ternate. Disebut juga Komisi Ngaruha atau Tau Raha di Kesultanan Tidore.
Fala Raha : Rumah empat, empat klan, yakni Soa Marsaoli, Limatahu, Tomagola dan Tamaito.
Fanyira : Singkatan dari Ngofa Manyira.
Gapi : Nama alternatif Ternate yang digunakan pada masa awal.
Gezaghebber : Penguasa, kepala pemerintahan local setingkat distrik.
Ginoti : Kayu yang terapung.
Gufusang : Lalat besar berwarna hijau.
Hukum Syara : Hakim pengadilan agama Islam dalam lingkungan kesultanan.
Hukum : Magisttraat, fungsionaris yang memegang posisi antara pemerintahan kerajaan dan pemimpin komunitas, hakim.
Imam : Pemimpin dalam pelaksanaan ibadah agama Islam, pembantu sultan dalam bidang agama Islam.
Jiko ma-kolano : Sebutan kepala distrik di Halmahera.
Jogugu : Perdana Menteri, pemegang kekuasaan pemerintahan (eksekutif).
Jojaru : Gadis yang belum menikah.
Juanga : perahu untuk berperang. Juanga ukuran sedang dapat memuat sampai 200 penumpang, juanga besar dapat memuat 300 – 400 orang.
Kadi : Hakim agama, ketua majelis peradilan agama tertinggi kerajaan, ketua para imam, khatib dan moding.
Kaicil : Pangeran, putera sultan dari permaisuri utama. Kaicil berasal dari bahasa jawa: kyai cilik (kiyai kecil).
Kalaudi : Pejabat kerajaan yang mengurus pajak, gelar pejabat di daerah taklukan kesultanan Ternate.
Kalem : Sebutan untuk kadi.
Kampung : Lingkungan kediaman atau desa.
Kapita : Pelaksana kekuasaan militer, komandan pasukan militer, kapten.
Kapita Kie : Pelaksana perang negeri kepala pasukan pengawal sultan.
Kapita Laut : Pelaksana perang laut, laksamana laut, panglima angkatan laut.
Kapita Ngofa : Kapten yang berasal dari keluarga sultan, kapten pangeran.
Khatib : Pejabat agama yang bertugas membaca khutbah setiap sembahyang jumat.
Khatib Dongofi : Khatib cadangan.
Khatib Juru Tulis : Khatib dengan tugas sebagai sekretaris.
Kie : Gunung, pulau yang memilik gunung, kerajaan yang berpusat pada sebuah pulau seperti Ternate dan Tidore.
Kie Besi : Nama gunung berapi di Makian.
Kie Ternate : Gunung Ternate (Gamalama), Pulau Ternate, Kerajaan Ternate.
Kolano : Raja, sultan.
Kora-kora : Perahu perang yang digunakan di Maluku Tengah. Di Maliku Utara-Ternate, Tidore, Bacan dan Halmahera-disebut juanga.
Landraad : Pengadilan Negeri.
Landschap : Daerah Swapraja.
Landvoogd : Wali Negeri, Gubernur di masa VOC.
Letnan : Pangkat perwira dalam ketentaraan yang di adopsi dari bahasa Belanda, luitenant.
Letnan Ngofa : Letnan dari kalangan bangsawan kerajaan.
Limau : Tempat yang diperkuat, benteng, ibukota.
Mahimo : Senior, lebih tua, wakil Kimalaha, wakil kepala komunitas.
Mara : Istilah dalam bahasa Ternate untuk Makian.
Mayor Ngofa : Mayor dari keluarga kesultanan, pangeran mayor.
Minister Van Kolonie : Menteri Utusan Daerah Jajahan Belanda. Terakhir berganti nama menjadi Minister Van Overzeegebied, Menteri Utusan Daerah seberang.
Moding : Anggota/staf imam, muezzin yang ditugaskan di masjid.
Moloku Kie Raha : Empat gunung Maluku. Semula menunjuk kepada Ternate, Tidore, Moti, Makian. Kemudian berkembang dan memiliki arti empat kerajaan Maluku, yakni Ternate, Tidore, Jailolo dan Bacan.
Ngase : Retribusi hasil hutan atau hasil laut tertentu.
Ngofa Manyira : Titel untuk kepala desa atau kepala soa. Secara harfiah, ngofa manyira bermakna anak yang lebih tua atau anak tertua.
Nyai Cili : Puteri Kerajaan, puteri sultan dari permaisuri utama. Nyai cili berasal dari bahasa Jawa: nyai dan cilik. Juga disebut Boki.
Resident : Residen, pegawai tinggi pemerintahan dalam negeri yang mengepalai suatu wilayah.
Sabua Lamo : Nama suku di Tobelo.
Sadeha : Komisaris, pelaksana tugas yang diberikan sultan, pemelihara benda-benda kerajaan tertentu.
Salahakan : Gelar untuk gubernur di daerah taklukan.
Salawaku : Tameng tradisional Maluku.
Sangaji : Gelar kepala komunitas tradisional, atau kepala distrik.
Syara : Undang-undang agama Islam, hokum atau syariat Islam, terutama yang berkaitan dengan masalah keperdataan. Berasal dari bahasa Arab, syar’i.
Utusan : Duta, penguasa setempat yang diutus sultan. Utusan terutama mengurus kepentingan sultan di suatu daerah, seperti memungut upeti, dan sebagainya.

Sumber by : Buku Kepulauan Rempah-rempah

 
AksaL Achmad | Powered By Blogspot | © Copyright  2008