29 Januari 2009

Ternate Kingdom Army 1902

21 Januari 2009

Keselek Popeda, Asti Ananta Pengen Investasi di Ternate


Kapanlagi.com - Saat berkunjung ke Ternate akhir minggu lalu, Asti Ananta mendapatkan pengalaman unik. Ia keselek Popeda (masakan khas Ternate -red). Popeda adalah makanan terbuat dari campuran sagu yang sangat liat hingga terkesan seperti lem dan dimakan bersama kuah ikan kakap.

Cara makannya pun unik, popeda harus ditelan tanpa dikunyah. Karena penasaran akan rasanya, Asti mencoba untuk mengunyah. Akibatnya ia keselek.

"Saya tertarik untuk mencoba popeda dan ternyata ketika langsung ditelan enak juga. Dan saking penasarannya aku pingin ngunyah, ternyata malah susah, lengket semua di mulut seperti lem, tapi kalau ditelan langsung seperti agar-agar dan terasa nikmat dengan campuran kuah ikan kakap merah," ungkapnya.

Ditambah lagi, ikan yang disajikan adalah ikan segar. Menurut Ilham Abdul Latif, salah satu petinggi Momentum Management yang ikut mendampingi Asti, ikan yang disajikan di Ternate bukan ikan yang menginap. "Ikan ini ditangkap pagi hari," katanya.

Melihat sumber daya alam yang begitu kaya, Asti terinspirasi untuk investasi dengan membuka usaha di Ternate. "Kuliner di sini cocok dengan lidah kita dengan campuran dan bumbu yang pas, Ternate hanya butuh promo agar wilayah indah ini dapat terekspos, di samping itu pemerintahan Maluku Utara bisa membangun infrastruktur pendukung pariwisata," sarannya.

Sumber by : KapanLagi.com

13 Januari 2009

Upaya memperjuangkan Sultan Babullah menjadi Pahlawan Nasional dalam kacamata Aksal Achmad

Kriteria yang harus dimiliki seorang calon pahlawan memang tidak ringan.
Berikut ini kriteria seorang calon pahlawan :

1) Warga Negara Republik Indonesia yang telah meninggal dunia dan semasa
hidupnya telah memimpin dan melakukan perjuangan bersenjata atau perjuangan
politik atau perjuangan dalam bidang lain untuk
mencapai/merebut/mempertahankan/mengisi kemerdekaan serta mewujudkan persatuan
dan kesatuan bangsa. Calon juga telah melahirkan gagasan atau pemikiran besar
yang dapat menunjang pembangunan bangsa dan negara dan telah menghasilkan karya
besar yang mendatangkan manfaat bagi kesejahteraan masyarakat luas atau meningkatkan harkat dan martabat bangsa Indonesia.

2) Pengabdian dan perjuangan yang dilakukannya berlangsung hampir sepanjang hidupnya
(tidak sesaat) dan melebihi tugas yang diembannya.

3) Perjuangan yang dilakukannya mempunyai jangkauan luas dan berdampak nasional.

4) Memiliki konsistensi jiwa dan semangat kebangsaan/nasionalisme yang tinggi.

5) Memiliki akhlak dan moral keagamaan yang tinggi.

6) Tidak pernah menyerah pada lawan/musuh dalam perjuangan.

7) Dalam riwayat hidupnya tidak pernah melakukan perbuatan tercela yang dapat merusak nilai perjuangannya.

Babullah Datu Syah adalah Sultan Ternate ke-7, dan Sultan teragung sepanjang sejarah Ternate. Kebesarannya terutama dikarenakan keberhasilannya mengusir kekuasaan asing yang besar dan sangat di takuti - yakni Portugis - keluar dari Maluku dan tak pernah kembali lagi.

Dari ke-7 poin kriteria untuk menjadi pahlawan nasional, ada satu yang sya anggap sedikit menjadi kendala buat pemerintah Propinsi Maluku Utara dalam upaya memperjuangkan Sultan Babullah menjadi pahlawan nasional, yakni :
Gelar Penguasa atas 72 pulau (Heer van twee en zeventig eilanden) yg disematkan pada BabuLLah adaLah benar adanya...namun latar belakang menguasai ke-72 pulau tersebut adalah mencari daerah seberang lautan yang akan berdiri dibawah naungan Kesultanan Ternate, bukan untuk mempersatukan bangsa Indonesia secara keseluruhan!!!

Just Info :
pernyataan ini lahir dari pemikiran sya secara pribadi berdasarkan referensi yg sya baca!!!
Kalaupun ada pihak2 yg merasa tidak puas akan apa yang sya kemukakan, sya mengajak teman2 untuk mengkritisi sesuatu yang kaLian anGGap keliru!!!!

Karna manusia tak Luput dari segala kesalahan dan KEBENARAN Hanya milik ALLAH SWT...

akhir kata,
WassaLamuaLaikum...Wr...Wb!!!!

4 Januari 2009

Ternate Tempoe Doeloe

Foto : TerminaL Lama Tahun 1976

Foto : Toko Buku SeLecta

29 Desember 2008

Dunia Pinggirkan Peran Wallace dalam Teori Evolusi


MAKASSAR - Dunia meminggirkan peran Alfred Russel Wallace dalam penemuan teori evolusi. Pada akhirnya, dunia juga melupakan keanekaragaman hayati Indonesia yang menginspirasi Wallace menemukan teori survival the fitest dan teori evolusi.

”Kontribusi Wallace dalam penemuan bersama teori evolusi oleh Wallace dan Charles Darwin sangat besar bagi ilmu pengetahuan,” kata Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia Prof Sangkot Marzuki MD pada Konferensi Internasional ”Alfred Russel Wallace and The Wallacea” yang berlangsung di Makassar, Rabu (10/12).
Seminar dibuka Wakil Gubernur Sulawesi Selatan Agus Arifin Nu’mang. Konferensi yang berlangsung hingga Sabtu (13/12) itu merupakan peringatan 150 tahun surat Wallace dari Ternate yang menjadi cikal bakal teori evolusi.

Konferensi internasional di Makassar itu diikuti para ahli dari sembilan negara yang tersebar di empat benua. Dalam sambutannya, Agus Arifin Nu’mang menyebut Sulawesi sebagai tempat yang bersejarah bagi kelahiran teori geologi dan biologi yang kemudian menjadi karya ilmiah Wallace berjudul On the Zoological Geography of the Malay Archipelago. Karya itu adalah dasar ilmu biogeografi dan menjadi cikal bakal garis Wallacea.

”Wallace juga telah menjadikan kawasan Wallacea sebagai hotspot keanekaragaman hayati dunia. Keanekaragaman hayati Indonesia merupakan yang tertinggi kedua setelah Brasil dan keanekaragaman itu berada di kawasan Wallacea,” kata Agus.

Menjelajah Nusantara

Pada kurun waktu 1850-1860, Wallace menjelajah Nusantara, mengumpulkan 125.660 spesimen. Dari penelitiannya itulah Wallace menetapkan garis maya yang memisahkan dua wilayah fauna. Garis yang kini dikenal sebagai garis Wallace itulah yang menjadi dasar Wallace mengkaji masalah evolusi.

Pada 9 Maret 1858, dari Ternate, Wallace mengirimkan surat ke Inggris yang ditujukan kepada Charles Darwin, berisi temuan-temuannya di Nusantara dan garis Wallace.

Menurut Sangkot, surat dari Ternate itulah yang mengguncang para ilmuwan Inggris. Pada 1 Juli 1858, Darwin mengumumkan teori bersama Wallace dan Darwin kepada Linnean Society di London. Saat teori itu diumumkan, Wallace sendiri masih berada di Papua.

”Kekayaan alam Indonesia adalah inspirasi bagi Wallace untuk menemukan teori evolusinya. Konferensi ini penting agar kawasan Wallacea menjadi perhatian para ahli. Kami mengharapkan akan bertambah penelitian nasional dan internasional terhadap kekayaan hayati Wallacea. Kami juga mengharapkan akan lahir penemuan baru bagi kepentingan internasional dan nasional,” kata Sangkot.

Pada pembukaan itu, Wali Kota Ternate Syamsir Andili membacakan Deklarasi Ternate. Deklarasi yang disusun 2 Desember 2008 itu berisi enam butir pernyataan bersama Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, akademisi, Yayasan Pengembangan Wallacea, dan para pemangku kepentingan lokal di Ternate dalam prakongres yang berlangsung di Ternate.

Salah satu butir deklarasi itu adalah komitmen Pemerintah Kota Ternate untuk membangun monumen Wallace di Ternate.

”Kami akan memperbaiki rumah yang dulu ditinggali Wallace dan akan mengabadikan namanya sebagai nama jalan di Ternate,” kata Syamsir.(ROW)

sumber: Kompas

 
AksaL Achmad | Powered By Blogspot | © Copyright  2008